Kamis, 12 Juli 2012

Perkembangan Anak Berkebutuhan Khusus


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Pengetahuan tentang anak sudah lama dikenal. Pada zaman Romawi dan Yunani sudah ada para ahli yang memperhatikan pendidikan anak walaupun pada saat itu anak belum dipandang sebagai bentuk manusia tersendiri. Penelitian terhadap anak dan buku-buku mengenai perkembangan jiwa anak pada zaman dahulu masih sangat minim bahkan belum ada.
Namun kemudian studi sistematis tentang perkembangan anak mengalami perkembangan yang cukup signifikan pada awal abad ke-20. Penelitian-penelitian yang dilakukan pada zaman ini bersifat deskriptif dan dititikberatkan pada ciri-ciri khas yang terdapat secara umum, golongan-golongan umur, serta masa-masa perkembangan tertentu.
Seperti yang telah dipaparkan di atas bahwa perkembangan anak bersifat diskriptif sesuai dengan golongan umurnya, namun ada kondisi dimana anak memerlukan perhatian khusus. Khusus pada makalah ini, penulis akan membahas mengenai apa saja karakteristik dan masalah pada anak-anak yang berkebutuhan khusus. Makalah ini diberi judul “Perkembangan Anak Luar Biasa”.
Pada makalah ini penulis akan secara mendalam membahas mengenai karakteristik dan masalah perkembangan anak luar biasa khususnya anak tunanetra, anak tunagrahita, dan anak-anak yang mengalami kesulitan belajar khususnya pada anak yang disleksia.

B.  Rumusan Masalah
Adapun masalah yang akan penulis rumuskan pada makalah ini sesuai dengan yang sudah penulis paparkan pada latar belakang di atas, yaitu:
a.         Apa saja karakteristik dan masalah perkembangan anak tunanetra?
b.        Apa saja karakteristik dan masalah perkembangan anak tunagrahita?
c.         Apa saja karakteristik dan masalah perkembangan anak disleksia?
1

C.      Tujuan dan Manfaat
Tujuan dan manfaat dibuatnya makalah ini selain sebagai tugas individu pengganti Ujian Tengah Semester (UTS) pada mata kuliah Psikologi Perkembangan I juga agar pembaca mengetahui tentang:
a.         Karakteristik dan masalah perkembangan anak tunanetra.
b.        Karakteristik dan masalah perkembangan anak tunagrahita.
c.         Karakteristik dan masalah perkembangan anak disleksia.

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Karakteristik dan Masalah Perkembangan Anak Tunanetra
Dalam pendidikan anak luar biasa, anak yang mengalami gangguan penglihatan lebih akrab disebut anak tunanetra. Pengertian tunanetra tidak saja bagi mereka yang buta, tetapi mencakup juga mereka yang mampu melihat tetapi terbatas sekali dan kurang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan sehari-hari terutama dalam belajar. Maka pengertian anak tunanetra adalah individu yang indera penglihatannya (kedua-duanya) tidak berfungsi sebagai saluran penerima informasi dalam kegiatan sehari-hari seperti halnya orang normal.
Dari uraian di atas, anak-anak dengan gangguan penglihatan ini memiliki ciri-ciri berikut:
a.         Ketajaman penglihatannya kurang dari ketajaman yang dimiliki orang normal.
b.        Terjadi kekeruhan pada lensa mata atau terdapat cairan tertentu.
c.         Posisi mata sulit dikendalikan oleh syaraf otak.
d.        Terjadi kerusakan susunan syaraf otak yang berhubungan dengan penglihatan.

Dari kondisi-kondisi di atas, pada umumnya yang digunakan sebagai patokan apakah seorang anak termasuk tunanetra atau tidak ialah berdasarkan pada tingkat ketajaman matanya. Untuk mengetahui ketunanetraannya dapat digunakan suatu tes yang dikenal sebagai tes Snellen Card. Perlu ditegaskan bahwa anak dapat dikatakan tunanetra apabila ketajaman penglihatannya kurang dari 6/21. Artinya, berdasarkan tes, anak hanya mampu membaca huruf pada jarak 6 meter yang oleh orang normal dapat dibaca pada jarak 21 meter.
Berdasarkan acuan tersebut, anak tunanetra dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu:
a.         Buta
3
Dikatakan buta jika anak sama sekali tidak mampu menerima rangsangan cahaya dari luar.
b.        Low Vision
Bila anak masih mampu menerima rangsangan cahaya dari luar, tetapi ketajamannya lebih dari 6/21, atau jika anak hanya mampu membaca headline pada surat kabar.

Anak tunanetra memliki karakteristik kognitif, sosial, emosi, motorik, dan kepribadian yang sangat bervariasi. Hal ini sangat bergantung pada sejak kapan anak mengalami ketunanetraan, bagaimana tingkat ketajaman penglihatannya, berapa usianya, serta bagaimana tingkat pendidikannya. Pertama-tama, penulis akan memaparkan penyebab ketunanetraan dan selanjutnya penulis akan memaparkan secara berturut-turut mengenai karakteristik perkembangan kognitif, motorik, emosi, sosial, kepribadian, dan masalah dan dampak ketunanetraan.

a.         Penyebab Ketunanetraan
Secara ilmiah ketunanetraan anak dapat disebabkan oleh berbagai faktor, apakah itu faktor dari dalam diri anak (internal) ataupun faktor dari luar anak (eksternal). Hal-hal yang termasuk internal yaitu faktor-faktor yang erat hubungannya dengan keadaan bayi selama masih dalam kandungan. Kemungkinannya karena faktor gen (sifat bawaan), kondisi psikis ibu, kekurangan gizi, keracunan obat dan lain sebagainya. Sedangkan hal-hal yang termasuk eksternal diantaranya kecelakaan, terkena penyakit siphilis yang mengenai matanya saat dilahirkan, pengaruh alat bantu medis (tang) saat melahirkan sehingga sistem syarafnya rusak, kurang gizi atau vitamin, terkena racun, panas badan yang terlalu tinggi, serta peradangan mata karena penyakit, bakteri ataupun virus.

b.        Perkembangan Kognitif
Indera penglihatan ialah salah satu indera penting dalam menerima informasi yang datang dari luar dirinya. Anak tunanetra memiliki keterbatasan atau bahkan ketidakmampuan untuk menerima rangsang atau informasi dari luar dirinya melalui indera penglihatan. Penerimaan rangsang atau informasi hanya dapat dilakukan melalu pemanfaatan indera-indera lainnya di luar indera penglihatan.
Indera penglihatan memegang peranan dominan pada proses pembentukan pengertian atau konsep, di samping indera lain dan fungsi intelktualnya. Akibat anak tunanetra maka proses pembentukan pengertian atau konsep terhadap rangsang atau informasi dari luar tubuh menjadi tidak utuh. Ketidakutuhan tersebut membuat anak tidak memiliki kesan, persepsi, pengertian, ingatan, dan pemahaman yang bersifat visual terhadap objek yang diamati.
Anak tunanetra lebih menonjolkan pemanfaatan indera pendengaran mereka. Hal ini mengakibatkan pembentukan proses pengertian atau konsep hanya berdasar kepada suara atau bahasa lisan. Karena kurangnya stimulus visual maka perkembangan bahasa anak menjadi lebih tertinggal dibandingkan dengan anak-anak normal. Pada anak tunanetra, kemampuan kosakata terbagi dua, yaitu kata-kata yang berarti bagi dirinya berdasarkan pengalamannya sendiri, dan kata-kata verbalistis yang diperolehnya dari orang lain yang ia sendiri tidak pahami. Kosakata anak tunanetra cenderung definitif.
Kesulitan besar akan terjadi dan sangat mungkin dihadapi anak apabila realitas lingkungan mengalami perubahan secara dinamis dan dengan mudah dapat diamati melalui indera penglihatan tetapi tidak dengan indera lainnya. Inilah salah satu penyebab perkembangan kognitif anak tunanetra terhambat.
Menurut Kirley, berdasarkan tes intelegensi ditemukan bahwa rentang IQ anak tunanetra berkisar antara 45-160, dengan distribusi 12,5% memiliki IQ kurang dari 80, kemudian 37,5% dengan IQ di atas 120, dan 50% dengan IQ di antara 80-120.
Pada akhirnya, perkembangan kognitif anak tunanetra sangat tergantung pada bagaimana jenis ketunanetraannya, kapan terjadi ketunanetraannnya, bagaimana tingkat pendidikan anak, dan bagaimana stimuli lingkungan terhadap upaya pengembangan kognitifnya.

c.         Perkembangan Motorik
Perkembangan motorik anak tunanetra cenderung lambat dibandingkan dengan anak normal pada umumnya. Kelambatan ini terjadi karena dalam perkembangan perilaku motorik diperlukan adanya koordinasi fungsional antara sistem persyarafan dan otot dan fungsi psikis, serta kesempatan yang diberikan oleh lingkungan. Pada anak tunanetra mungkin fungsi syaraf dan ototnya tidak bermasalah, tetapi fungsi psikisnya kurang mendukung sehingga menjadi hambatan tersendiri bagi perkembangan motorik anak tunanetra.
Secara fisik anak tunanetra mungkin mampu mencapai kematangan yang sama dengan anak normal lainnya, tetapi karena fungsi psikisnya terbatas mengakibatkan kematangan fisiknya kurang dapat dimanfaatkan secara maksimal dalam melakukan aktivitas gerak motorik.

d.        Perkembangan Emosi
Perkembangan emosi pada anak tunanetra akan mengalami keterlambatan. Keterlambatan ini terutama disebabkan oleh keterbatasan anak tunanetra dalam proses belajar. Pada awal masa kanak-kanak, anak tunanetra mungkin akan melakukan proses belajar mencoba-coba untuk menyatakan emosinya, namun hali ini dirasakan kurang efisien karena anak tidak dapat melihat dan memahami reaksi lingkungannya secara tepat.
Perkembangan emosi anak tunanetra akan semakin terhambat bila anak mengalami deprivasi emosi, yaitu keadaan di mana anak tunanetra tersebut kurang memiliki kesempatan untuk menghayati pengalaman emosi yang menyenangkan seperti kasih sayang, kegembiraan, perhatian, dan kesenangan. Anak tunanetra yang cenderung mengalami deprivasi emosi ini terutama adalah anak-anak yang pada masa awal kehidupannya atau perkembangannya ditolak kehadirannya oleh keluarga atau lingkungannya. Deprevasi emosi ini akan sangat berpengaruh terhadap aspek perkembangan lainnya seperti perkembangan fisik, motorik, bicara, intelektual, dan sosialnya.
Masalah lain yang timbul pada masa perkembangan emosi anak tunanetra yaitu emosi yang negatif dan berlebihan. Semua ini berpangkal pada keterbatasan melihat serta merasakan pengalaman-pengalaman. Pola emosi yang negatif dan berlebihan itu seperti perasaan takut, malu, khawatir, cemas, mudah marah, iri hati, serta kesedihan yang berlebihan.

e.         Perkembangan Kepribadian
Berdasarkan pengamatan sehari-hari bahwa anak-anak tunanetra sering menunjukkan karakteristik perilaku yang berbeda dengan orang normal. Menurut Sukino Pradopo, gambaran sifat anak tunanetra diantaranya adalah ragu-ragu, rendah diri, dan curiga pada orang lain. Sedangkan menurut Sommer, anak tunanetra cenderung memiliki sifat yang berlebihan, menghindari kontak sosial, mempertahankan diri, dan menyalahkan orang lain, serta tidak mengakui kecacatannya.

f.         Masalah dan Dampak Ketunanetraan
Berdasarkan pemaparan di atas tampak bahwa anak tunanetra cenderung memliki berbagai masalah yang berhubungan dengan bidang pendidikan, sosial, emosi, kesehatan, pengisi waktu luang, maupun pekerjaan. Semua permasalahan tersebut perlu diantisipasi dengan memberikan layanan pendidikan, arahan, bimbingan, latihan, dan kesempatan yang luas bagi anak tunanetra sehingga permasalahan yang mungkin timbul dapat diatasi sedini mungkin. Permasalahan-permasalahan tersebut butuh ditangani agar tidak merugikan perkembangan anak tunanetra tersebut.
Menurut orang normal, penyandang tunanetra memliki beberapa karakteristik baik yang positif maupun yang negatif. Karakteristik positif penyandang tunanetra misalnya memiliki kepekaan yang baik terhadap suara, perabaan, ingatan, keterampilan dalam bermain musik, serta ketertarikan yang tinggi terhadap nilai moral dan agama. Sedangkan pandangan negatif orang normal terhadap penyandang tunanetra misalnya memiliki sikap tidak berdaya, bersifat ketergantungan, tingkat kemampuan rendah dalam orientasi waktu, tidak suka berenang, menikmati suara dari televisi, tidak pernah merasakan kebahagiaan, sifat kepribadian yang penuh frustasi, kaku dan cepat menarik tangan saat bersalaman serta cepat mengalami kebingungan.

B.       Karakteristik dan Masalah Perkembangan Anak Tunagrahita
Tunagrahita adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata. Istilah ini sesungguhnya memiliki arti yang sama yang menjelaskan kondisi anak yang kecerdasannya jauh di bawah rata-rata dan ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan dalam interaksi sosial. Anak tunagrahita atau yang dikenal juga dengan istilah terbelakang mental karena keterbatasan kecerdasannya mengakibatkan dirinya sukar untuk mengikuti program pendidikan di sekolah biasa secara klasikal, oleh karena itu aak terbelakang mental membutuhkan layanan pendidikan secara khusus yakni disesuaikan dengan kemampuan anak tersebut.
Tunagrahita merupakan kondisi di mana perkembangan kecerdasan anak mengalami hambatan sehingga tidak mencapai tahap perkembangan yang optimal. Ada beberapa karakteristik umum tunagrahita yang dapat kita pelajari, yaitu:
a.             Keterbatasan Intelegensi
Intelegensi merupakan fungsi yang kompleks yang dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mempelajari informasi dan keterampilan menyesuaikan diri dengan masalah dan situasi kehidupan baru, belajar dari pengalaman masa lalu, berpikir abstrak, kreatif, dapat menilai secara kritis, menghindari kesalahan, mengatasi kesulitan, dan kemampuan untuk merencanakan masa depan. Anak tunagrahita memiliki kekurangan dalam semua hal tersebut. Kapasitas belajar anak tunagrahita terutama yang bersifat abstrak sepeti belajar dan berhitung, menulis dan membaca juga terbatas. Kemampuan belajarnya cenderung tanpa pengertian atau cenderung belajar dengan membeo.

b.             Keterbatasan Sosial
Di samping memiliki keterbatasan intelegensi, anak tunagrahita juga memiliki kesulitan dalam mengurus diri sendiri dalam masyarakat, oleh karena itu mereka memerlukan bantuan.
Anak tunagrahita cenderung berteman dengan anak yang lebih muda usianya, ketergantungan terhadap orang tua sangat besar, tidak mampu memikul tanggung jawab sosial dengan bijaksana, sehingga mereka harus selalu dibimbing dan diawasai. Mereka juga mudah dipengaruhi dan cenderung melakukan sesuatu tanpa memikirkan akibatnya.

c.             Keterbatasan Fungsi-Fungsi Mental Lainnya
Anak tunagrahita memerlukan waktu lebih lama untuk menyelesaikan reaksi pada situasi yang baru dikenalnya. Anak tunagrahita memiliki keterbatasan dalam penguasaan bahasa, mereka bukan bermasalah pada artikulasi, tetapi pada berbendaharaan kata yang kurang berfungsi sebagaimana mestinya. Selain itu, anak tunagrahita juga kurang mampu untuk mempertimbangkan sesuatu, membedakan yang baik dan yang buruk, dan membedakan yang benar dan yang salah.

Pengelompokan pada umumnya didasarkan pada taraf intelegitasnya, yang terdiri dari keterbelakangan ringan, sedang, dan berat. Demikian pemaparan lebih jelasnya:
a.         Tunagrahita Ringan
Tunagrahita ringan disebut juga moron atau debil. Kelompok ini memiliki IQ antara 68-52 menurut Binet, sedangkan menurut Skala Weschler memiliki IQ 69-55. Mereka masih dapat belajar membaca, menulis, dan berhitung sederhana. Dengan bimbingan dan pendidikan yang baik, anak tunagrahita ringan pada saatnya akan dapat memperoleh penghasilan untuk dirinya sendiri.
Pada umumnya anak tunagrahita ringan tidak mengalami gangguan fisik. Mereka secara fisik tampak seperti anak normal lainnya.
b.        Tunagrahita Sedang
Anak tunagrahita sedang disebut juga imbesil. Kelompok ini memiliki IQ 51-36 pada Skala Binet dan 54-40 pada Skala Weschler. Anak tunagrahita sedang dapat dididik mengurus diri sendiri, melindungi diri sendiri dari bahaya kebakaran, berjalan di jalan raya, berlindung dari hujan, dan sebagainya.
Anak tunagrahita sedang sangat sulit bahkan tidak dapat belajar secara akademik seperti belajar menulis, membaca, dan menghitung walaupun mereka masih dapat menulis secara sosial, misalnya menulis namanya sendiri, alamat rumahnya, dan lain-lain. Masih dapat dididik mengurus diri sendiri.

c.         Tunagrahita Berat
Kelompok tunagrahita berat sering disebut idiot. Kelompok ini dapat dibedakan lagi sebagai anak tunagrahita berat dan sangat berat. Tunagrahita berat memiliki IQ 32-20 menurut Skala Binet dan antara 39-25 menurut Skala Weschler. Tunagrahita sangat berat memiliki IQ di bawah 19menurut Skala Binet dan IQ di bawah 24 menurut Skala Weschler.
Anak tunagrahita berat memerlukan perawatan secara total dalam hal berpakaian, mandi, makan, dan lain-lain. Bahkan mereka memerlukan perlindungan selama hidupnya.

Pada makalah ini penulis akan memaparkan perkembangan fisik anak tunagrahita, perkembangan kognitif, dan dampak ketunagrahitaan.
a.         Perkembangan Fisik
Perkembangan jasmani dan motorik anak tunagrahita tidak secepat perkembangan anak normal sebagaimana banyak ditulis orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesegaran jasmani anak keterbelakangan mental. Tingkat kesegaran jasmani anak tunagrahita setingkat lebih rendah dibandingkan dengan anak normal pada umur yang sama.

b.        Perkembangan Kognitif
Dalam hal kecepatan belajar, anak tunagrahita jauh ketinggalan oleh anak normal. Untuk mencapai kriteria yang dicapai oleh anak tunagrahita lebih banyak memerlukan ulangan tentang bahan tersebut.
Ketepatan respon anak tunagrahita kurang daripada respon anak normal. Tetapi bila tugas yang diberikan bersifat diskriminasi visual, ternyata posisi anak tunagrahita hampir sama dengan yang diperoleh anak normal.
Dalam hal memori, anak tunagrahita berbeda dengan anak normal pada short term memory. Namun pada long term memory anak tunagrahita tidak berbeda dengan anak normal, daya ingatnya sama. Namun, untuk hal mengingat segera, anak tunagrahita berbeda dengan anak normal.
Fleksibilitas mental yang kurang pada anak tunagrahita mengakibatkan kesulitan dalam pengorganisasian bahan yang akan dipelajari. Oleh karena itu sukar bagi anak tunagrahita untuk menangkap informasi yang kompleks.

c.         Dampak Ketunagrahitaan
Orang yang paling banyak menanggung beban akibat ketunagrahitaan adalah orang tua dan keluarga anak tersebut. Oleh sebab itu dikatakan bahwa penanganan anak tunagrahita merupakan resiko psikiatri keluarga. Keluarga anak tunagrahita berada dalam resiko yang berat dan bersiap menghadapi hal-hal yang bersifat emosional.
Pada umumnya, masyarakat kurang mengacuhkan anak tunagrahita, bahkan tidak dapat membedakannya dari orang gila. Orang tua biasanya tidak memiliki gambaran mengenai masa depan anaknya yang mengalami tunagrahita. Saudara-sauadaranya ketika memasuki usia remaja akan mengalami tekanan emosional dan merasa terbebani dengan hadirnya anak tunagrahita dalam keluarga mereka. Dilihat dari satu sisi, ada baiknya anak tunagrahita dipisahkan dari tempat penampungan. Namun dari sisi lain, pemisahan seperti ini akan berdampak pada ketegangan orang tua, terutama ib yang sangat menyayangi anaknya.

C.      Karakteristik dan Masalah Perkembangan Anak Disleksia
Disleksia berasal dari bahasa Yunani iaitu "dys" bermakna susah, dan "lexia" bermakna tulisan. Disleksia bukannya satu penyakit, tetapi merupakan salah satu gangguan dalam pembelajaran yang biasanya dialami oleh kanak-kanak. Lazimnya, masalah pembelajaran yang dihadapi adalah seperti membaca, menulis, mengeja, dan kemahiran mengira. Oleh itu dyslexia merujuk kepada mereka yang menghadapi masalah untuk membaca dan menulis walaupun mempunyai daya pemikiran yang normal.
Mereka yang mengalami disleksia bukannya menghadapi kecacatan malah sebagian daripada orang-orang yang terkenal juga mempunyai disleksia. Setengah mereka yang mempunyai keadaan disleksia mempunyai kesukaran untuk menyebut perkataan yang panjang, dan ada yang sukar mempelajari turutan seperti nama bulan. Setiap orang dengan disleksia mempunyai masalah yang tidak serupa dengan orang lain dengan disleksia.
Masalah disleksia berbeda dengan afasia, yang merupakan sejenis penyakit yang disebabkan oleh kerosakan saraf otak, dengan itu akan melumpuhkan kebolehan seseorang untuk berkomunikasi.
Ciri-ciri anak yang mengalami disleksia, yaitu:
a.         Selalunya dikesan pada peringkat awal persekolahan kanak-kanak.
b.        Lambat membaca dan mempunyai tulisan tangan yang buruk.
c.         Ketika membaca, sering mengurang dan menambah pada sesuatu perkataan.
d.        Sering keliru dengan sesuatu perkataan pada huruf-huruf tertentu contohnya 'b' dianggap 'd' dan 'p' dianggap 'q'.
e.         Perhatian mudah terganggu atau gagal untuk menghabiskan sesuatu kerja hingga habis.
f.         Cenderung menjadi seorang yang impulsif atau sering mengikut perasaan sendiri tanpa memikirkan orang lain.
g.        Sering berlaku di kalangan lelaki.
h.        Kerap berlaku di kalangan pasangan kembar, kanak-kanak yang lahir tidak cukup bulan, anak-anak yang lahir daripada ibu yang sudah berumur, dan kanak-kanak yang pernah mengalami kecederaan pada kepala.

Penyebab disleksia akibat cara kerja otak yang berbeda daripada keadaan yang normal. Apabila ujian imbasan dijalankan ke atas penderita disleksia, didapati cara otak mereka memproses maklumat agak berbeda daripada biasa. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh kecacatan pada otak yang berlaku semasa dalam kandungan ataupun daripada kemalangan. Faktor keturunan juga dikatakan sebagai salah satu penyebab disleksia.
Penderita  disleksia biasanya mengalami masalah-masalah, seperti :
a.         Masalah fonologi: Yang dimaksud masalah fonologi adalah hubungan sistematik antara huruf dan bunyi. Misalnya mereka mengalami kesulitan membedakan ”paku” dengan ”palu”; atau mereka keliru memahami kata-kata yang mempunyai bunyi hampir sama, misalnya ”lima puluh” dengan ”lima belas”. Kesulitan ini tidak disebabkan masalah pendengaran, tetapi berkaitan dengan proses pengolahan input di dalam otak.
b.        Masalah mengingat perkataan: Kebanyakan anak disleksia mempunyai level kecerdasan normal atau di atas normal. Namun, mereka mempunyai kesulitan mengingat perkataan. Mereka mungkin sulit menyebutkan nama teman-temannya dan memilih untuk memanggilnya dengan istilah “temanku di sekolah” atau “temanku yang laki-laki itu”. Mereka mungkin dapat menjelaskan suatu cerita, tetapi tidak dapat mengingat jawaban untuk pertanyaan yang sederhana.
c.         Masalah penyusunan yang sistematis atau berurut: Anak disleksia mengalami kesulitan menyusun sesuatu secara berurutan misalnya susunan bulan dalam setahun, hari dalam seminggu, atau susunan huruf dan angka. Mereka sering ”lupa” susunan aktivitas yang sudah direncanakan sebelumnya, misalnya lupa apakah setelah pulang sekolah langsung pulang ke rumah atau langsung pergi ke tempat latihan sepak bola. Padahal, orangtua sudah mengingatkannya bahkan mungkin hal itu sudah pula ditulis dalam agenda kegiatannya. Mereka juga mengalami kesulitan yang berhubungan dengan perkiraan terhadap waktu. Misalnya mereka mengalami kesulitan memahami instruksi seperti ini: ”Waktu yang disediakan untuk ulangan adalah 45 menit. Sekarang pukul 08.00. Maka 15 menit sebelum waktu berakhir, Ibu Guru akan mengetuk meja satu kali”. Kadang kala mereka pun ”bingung” dengan perhitungan uang yang sederhana, misalnya mereka tidak yakin apakah uangnya cukup untuk membeli sepotong kue atau tidak.
d.        Masalah ingatan jangka pendek: Anak disleksia mengalami kesulitan memahami instruksi yang panjang dalam satu waktu yang pendek. Misalnya ibu menyuruh anak untuk “Simpan tas di kamarmu di lantai atas, ganti pakaian, cuci kaki dan tangan, lalu turun ke bawah lagi untuk makan siang bersama ibu, tapi jangan lupa bawa serta buku PR Matematikanya, ya”, maka kemungkinan besar anak disleksia tidak melakukan seluruh instruksi tersebut dengan sempurna karena tidak mampu mengingat seluruh perkataan ibunya.
e.         Masalah pemahaman sintaks: Anak disleksia sering mengalami kebingungan dalam memahami tata bahasa, terutama jika dalam waktu yang bersamaan mereka menggunakan dua atau lebih bahasa yang mempunyai tata bahasa yang berbeda. Anak disleksia mengalami masalah dengan bahasa keduanya apabila pengaturan tata bahasanya berbeda daripada bahasa pertama. Misalnya dalam bahasa Indonesia dikenal susunan diterangkan–menerangkan (contoh: tas merah). Namun, dalam bahasa Inggris dikenal susunan menerangkan-diterangkan (contoh: red bag).
Disleksia hanya dapat dikesan apabila beberapa ujian dilakukan ke atas penderita di bawah pengendalian ahli psikologi atau guru khas disleksia. Kelainan  ini boleh dirawat tetapi tidak boleh diobati. Penghidap disleksia lazimnya akan diberi rawatan secara terapi untuk meningkatkan kemahiran linguistik, berpikir, dan sosial.


BAB III
KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat penulis ambil dari pemaparan pada makalah ini yaitu:
a.         Anak tunanetra adalah individu yang indera penglihatannya (kedua-duanya) tidak berfungsi sebagai saluran penerima informasi dalam kegiatan sehari-hari seperti halnya orang normal.
b.        Anak tunanetra memliki karakteristik kognitif, sosial, emosi, motorik, dan kepribadian serta dampak dan masalah yang sangat bervariasi. Hal ini sangat bergantung pada sejak kapan anak mengalami ketunanetraan, bagaimana tingkat ketajaman penglihatannya, berapa usianya, serta bagaimana tingkat pendidikannya.
c.         Tunagrahita adalah istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang mempunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata.
d.        Karakteristik umum anak tunagrahita ialah keterbatasan intelegensi, keterbatasan sosial, dan keterbatasan fungsi-fungsi mental lainnya.
e.         Klasifikasi anak tunagrahita ialah tunagrahita ringan (moron), tunagrahita sedang (imbesil), dan tunagrahita berat (idiot).
f.         Orang yang paling banyak menanggung beban akibat ketunagrahitaan adalah orang tua dan keluarga anak tersebut.
g.        Disleksia berasal dari bahasa Yunani iaitu "dys" bermakna susah, dan "lexia" bermakna tulisan. Disleksia bukannya satu penyakit, tetapi merupakan salah satu gangguan dalam pembelajaran yang biasanya dialami oleh kanak-kanak.
h.       
15
Ciri-ciri anak yang mengalami disleksia, ialah selalunya dikesan pada peringkat awal persekolahan kanak-kanak, lambat membaca dan mempunyai tulisan tangan yang buruk, ketika membaca, sering mengurang dan menambah pada sesuatu perkataan, sering keliru dengan sesuatu perkataan pada huruf-huruf tertentu contohnya 'b' dianggap 'd' dan 'p' dianggap 'q', perhatian mudah terganggu atau gagal untuk menghabiskan sesuatu kerja hingga habis, cenderung menjadi seorang yang impulsif atau sering mengikut perasaan sendiri tanpa memikirkan orang lain, sering berlaku di kalangan lelaki, dan kerap berlaku di kalangan pasangan kembar, kanak-kanak yang lahir tidak cukup bulan, anak-anak yang lahir daripada ibu yang sudah berumur, dan kanak-kanak yang pernah mengalami kecederaan pada kepala.
i.          Penyebab disleksia akibat cara kerja otak yang berbeda daripada keadaan yang normal. Faktor keturunan juga dikatakan sebagai salah satu penyebab disleksia.
j.          Penderita  disleksia biasanya mengalami masalah-masalah, seperti masalah fonologi, mengingat perkataan, penyusunan yang sistematis atau berurut, ingatan jangka pendek, dan pemahaman sintaks.
k.        Kelainan disleksia ini boleh dirawat tetapi tidak boleh diobati.

DAFTAR PUSTAKA
Somantri, T. Sutjihati. 2007. Psikologi Anak Luar Biasa. PT Refika Aditama: Bandung.
Desmita. 2010. Psikologi Perkembangan. PT Remaja Rosdakarya: Bandung.
Candra, Asep. 2010. Apa Itu Disleksia?. health.kompas.com. Diakses pada tanggal  7 Mei 2012 pada pukul 17.59 WITA.
17
NN. TT. Disleksia. ms.wikipedia.org . Diakses pada tanggal 7 Mei 2012 pada pukul 17.59 WITA.

Laporan Hasil Observasi Terhadap Anak Penderita Down Syndrome


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Pengetahuan tentang anak sudah lama dikenal. Pada zaman Romawi dan Yunani sudah ada para ahli yang memperhatikan pendidikan anak walaupun pada saat itu anak belum dipandang sebagai bentuk manusia tersendiri. Penelitian terhadap anak dan buku-buku mengenai perkembangan jiwa anak pada zaman dahulu masih sangat minim bahkan belum ada.
Namun kemudian studi sistematis tentang perkembangan anak mengalami perkembangan yang cukup signifikan pada awal abad ke-20. Penelitian-penelitian yang dilakukan pada zaman ini bersifat deskriptif dan dititikberatkan pada ciri-ciri khas yang terdapat secara umum, golongan-golongan umur, serta masa-masa perkembangan tertentu.
Seperti yang telah dipaparkan di atas bahwa perkembangan anak bersifat diskriptif sesuai dengan golongan umurnya, namun ada kondisi dimana anak memerlukan perhatian khusus.
Dilatarbelakangi pemaparan di atas, penyusun pun melakukan sebuah penelitian secara observasi terhadap anak-anak berkebutuhan khusus, dan penyusun memfokuskan kepada anak penderita Down Syndrome. Penelitian observasi tersebut dilaksanakan pada :
Tempat                 : Sekolah Dasar Luar Biasa Pembina Tingkat Provinsi
Hari/Tanggal        : Selasa, Jumat, dan Sabtu/22, 25, dan 26 Mei 2012
Waktu                  : Pukul 09.00 – 11.00 WITA

B.  Rumusan Masalah
Adapun masalah yang akan penulis rumuskan pada laporan hasil observasi ini, yaitu :
1.        Apa saja karakteristik anak penderita Down Syndrome?
2.        Bagaimana proses belajar anak penderita Down Syndrome?

C.  Tujuan dan Manfaat
Tujuan dan manfaat dibuatnya laporan ini selain sebagai tugas kelompok pada mata kuliah Psikologi Perkembangan I juga agar pembaca mengetahui tentang apa saja karakteristik anak penderita Down Syndrome dan bagaimana proses belajar-mengajar anak penderita Down Syndrome  beserta masalah-masalah yang muncul didalamnya.

BAB II
HASIL OBSERVASI
A.  Karakteristik Anak Penderita Down Syndrome
Berdasarkan hasil observasi yang penyusun lakukan, anak penderita Down Syndrome disebut mongolisme (tampak seperti orang Mongol, karena adanya lipatan di atas kelopak mata). Penderita Down Syndrome memiliki ciri-ciri bertubuh pendek (sekitar 120cm), wajah berbentuk bulat, kelopak mata atas mempunyai lipatan, mata sipit, bibir tebal, hidung lebar dan datar, telinga kecil dan menjorok, telapak tangan lebar, jari berukuran pendek dan gemuk, ujung jari-jari halus, gigi kecil dan jarang (pada beberapa anak, giginya rusak), air liur sering menetes, bicaranya tidak jelas (bahkan pada beberapa anak, tidak dapat berbicara), mempunyai kelainan jantung, lemah mental, dan IQ rendah (anak-anak penderita Down Syndrome yang bersekolah di tempat observasi dilakukan hanya anak-anak imbisil (IQ 25-49) dan debil (IQ 50-69). Untuk anak idiot (IQ 24), pihak sekolah tidak menerima).

B.  Proses Belajar Anak Penderita Down Syndrome
Berdasarkan hasil observasi, kelas untuk anak penderita Down Syndorme terbagi atas 2 kelas, yaitu kelas bagi anak-anak penderita Down Syndrome ringan dan kelas bagi anak-anak penderita Down Syndrome berat. Untuk kelas anak penderita Down Syndrome ringan ditangani oleh Ibu Suhera, sedangkan untuk kelas anak penderita Down Syndrome berat ditangani oleh Bapak Jayalangkara dan dua rekan kerjanya.
Pada hari pertama dan kedua observasi dilakukan, penyusun mengunjungi kelas anak penderita Down Syndrome berat. Namun karena adanya sedikit hambatan, sehingga penyusun tidak sempat melihat proses belajar mengajar pada kelas yang ditangani oleh Bapak Jayalangkara, atau yang akrab dipanggil Bapak Jaya, ini. Penyusun hanya sempat bertemu dengan salah satu anak penderita Down Syndrome berat.
Pada hari pertama observasi, penyusun mendapat cukup informasi dari Bapak Jaya yang menyatakan bahwa kelas yang ditanganinya terdiri atas 8 anak yang terbagi atas 4 anak kelas 2 SD dan 4 anak kelas 3 SD. Kondisi kelas yang ditangani oleh Bapak Jaya ini merupakan sebuah kelas yang dibagi menjadi dua bagian dengan dibatasi oleh papan pembatas antara kelas 2 SD dan kelas 3 SD. Menurut Bapak Jaya, kondisi kelas seperti ini, di mana dalam satu kelas terdapat 8 anak yang wajahnya mirip satu sama lain namun dengan karakter dan kondisi emosional yang terus berubah, walaupun memiliki pembatas, sangat sulit. Kadang saat Bapak Jaya sedang mengurus anak yang satu, anak yang lain datang dan menarik-narik celananya, lalu datang anak yang lain lagi membawa mainannya dan mengajak Bapak Jaya bermain. Belum lagi jika ada anak perempuan yang sedang menstruasi. Bapak Jaya akan melarang anak itu datang sekolah.
Menurut pernyataan Bapak Jaya dan guru dari kelas tunarungu, Ibu Mimin, ada juga anak Down Syndrome berat yang terkadang buang air besar (BAB) di kelas dan memainkan kotorannya sehingga seluruh kelas menjadi kotor. Kondisi ini jelas sangat sulit dan merepotkan. Namun, itulah tantangan, tugas dan tanggung jawab para guru sebagai pendidik anak-anak berkebutuhan khusus.
Menurut informasi yang penyusun peroleh dari wawancara dengan Bapak Jaya, kondisi emosional anak-anak penderita Down Syndrome itu sangat mudah berubah dan sulit ditebak. Terkadang anak-anak penderita Down Syndrome tampak begitu menyayangi gurunya, mereka mengelus lembut wajah gurunya, namun tidak lama setelah itu, mereka langsung menampar gurunya.
Bapak Jaya kembali memberikan informasi bahwa cara mengajar di kelas anak penderita Down Syndrome itu sangat berbeda dari mengajar di kelas anak-anak berkebutuhan khusus apalagi anak-anak normal. Selain karena kondisi emosional anak-anak penderita Down Syndrome ini sangat labil, mereka juga memiliki IQ yang rendah. Bapak Jaya mengaku, sebagai guru dirinya harus memiliki inovasi dan kreativitas setiap harinya untuk menarik perhatian dari murid-muridnya. Terkadang dalam sekali mengajar, beberapa mata pelajaran dapat langsung tersampaikan kepada muridnya. Salah satu metode yang biasa digunakan oleh Bapak Jaya ketika mengajar yaitu memulai kelas dengan bermain. Awalnya Bapak Jaya memperlihatkan sebuah bola. Lalu bertanya apa yang sedang dia pegang. Setelah murid-murid menjawab, Bapak Jaya akan meminta salah satu murid menuliskan huruf yang menyusun nama benda tersebut. Di sini pelajaran Bahasa Indonesia diajarkan. Setelah itu Bapak Jaya akan bertanya berapa jumlah bola yang ada. Di sini pelajaran Matematika diajarkan. Dan setelah itu Bapak Jaya akan melemparkan bola kepada murid-muridnya, maka murid-murid akan melatih gerak motoriknya.
Salah satu tantangan terberat bagi para guru yaitu memahami apa keinginan muridnya. Sebagian besar anak penderita Down Syndrome sulit dimengerti keinginannya. Hal ini disebabkan perbendaharaan kata anak sangat minim, ada beberapa anak yang tidak mau berbicara, dan ada anak yang hanya mengerti jika menggunakan bahasa yang sering digunakan di rumahnya (misalnya bahasa daerah).
Observasi pada hari ketiga dilakukan pada kelas Down Syndrome ringan yang ditangani oleh Ibu Suhera. Di kelas ini terdapat 2 kelompok kelas, yaitu kelas 5 SD dan kelas 1 SMP. Pada kelas 5 SD hanya terdapat 1 orang anak, dan pada kelas 1 SMP terdapat 5 orang anak. Penyusun memfokuskan observasi terhadap anak kelas 5 SD bernama Waode. Menurut keterangan dari Ibu Suhera dan observasi penyusun, Waode merupakan seorang anak penderita Down Syndrome yang sudah cukup mampu mengurus dirinya sendiri. Konsentrasi Waode cukup baik, bicaranya cukup jelas, dan kondisi emosinya cukup terkontrol. Saat penyusun melakukan observasi, Waode sedang bermain masak-memasak. Setelah Waode bermain, Waode membereskan mainannya lalu menyimpan mainannya itu ke dalam lemari penyimpanan. Setelah itu Waode memakai sendiri kaos kaki dan sepatunya. Waode juga mengenal orang yang datang menjemputnya, sehingga saat Waode melihat penjemputnya di depan kelas, Waode langsung berpamitan pada para penyusun yang sedang melakukan observasi, juga kepada teman-teman di kelas 1 SMP dan kepada Ibu Suhera. Menurut pernyataan Ibu Suhera, Waode merupakan salah satu anak penderita Down Syndrome ringan yang IQ-nya cukup baik dan mudah dididik.
Dari hasil observasi ini, dapat dilihat bahwa sebagian besar kegiatan fisik mudah dilatih pada anak penderita Down Syndrome, sebab umumnya kegiatan fisik tidak membutuhkan aktivitas mental yang normal (berfikir, menganalisa, dan mengingat), tetapi hanya berupa aktivitas gerak tubuh yang mudah dipandu bagi seluruh jenis kebutuhan khusus. Sedangkan untuk melatih aktivitas mental, akan sangat sulit. Dan berdasarkan hasil observasi ini, merupakan suatu keberhasilan pendidikan jika anak penderita Down Syndrome sudah mampu mengurus dirinya sendiri, seperti mengancingkan bajunya sendiri tanpa suatu kesalahan, memakai sepatunya sendiri, merapikan permainannya, dan aktivitas-aktivitas untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri.

BAB III
KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat penyusun ambil dari pemaparan hasil observasi ini yaitu:
1.        Anak penderita Down Syndrome disebut juga mongolisme.
2.        Penderita Down Syndrome memiliki ciri-ciri bertubuh pendek (sekitar 120cm), wajah berbentuk bulat, kelopak mata atas mempunyai lipatan, mata sipit, bibir tebal, hidung lebar dan datar, telinga kecil dan menjorok, telapak tangan lebar, jari berukuran pendek dan gemuk, ujung jari-jari halus, gigi kecil dan jarang (pada beberapa anak, giginya rusak), air liur sering menetes, bicaranya tidak jelas (bahkan pada beberapa anak, tidak dapat berbicara), mempunyai kelainan jantung, lemah mental, dan IQ rendah.
3.        Kondisi emosional anak-anak penderita Down Syndrome itu sangat mudah berubah (labil) dan sulit ditebak.
4.        Guru harus memiliki inovasi dan kreativitas setiap harinya untuk menarik perhatian dari murid-murid penderita Down Syndrome.
5.        Salah satu tantangan terberat bagi para guru yaitu memahami apa keinginan muridnya.
6.        Sebagian besar kegiatan fisik mudah dilatih pada anak penderita Down Syndrome, sebab umumnya kegiatan fisik tidak membutuhkan aktivitas mental.

Senin, 02 Juli 2012

hai hai

huaaahh, setelah sekian lama tidak menengok blog ini, akhirnya mulai diurus lagi :D

hmm, tidak ada bahan tulisan -____-

curhat sajalah kalau begitu..

hari ini, setelah sekian lama tidak bertemu dengan mba teh kotak, akhirnya ketemu lagi di fakultas \(^o^)/
hahaha..
tidak ada janjian..
tadi pas tiba di kampus, awalnya tunggu mba biru dan mba ceng di lobi..
tapi, nda tau kenapa, jadinya kaki ku melangkah menaiki tangga menuju fakultas (caileh, bahasanya. sok puitis hahaha)
pas sampe fakultas, wih, ada yang pink menyala duduk depan meja wakil dekan.. hampir saja saya teriak bahagia dalam fakultas..
untuknya saya masih bisa menahan diri..

saya langsung mengabari teman-teman yang lain kalo mba teh kotak ada di fakultas..
mba biru, mba ceng, mba seting, mba kecil, mba nene, langsung heboh :D

wajar sih heboh, mba teh kotak memang ngangenin hahaha :*

ujung-ujungnya, cerita kami berlanjut di mcd..

ini laporan hari ini, mas blogger :D

sebentar dilanjut yaaa :)

p.s.
miss my jetlag :( agak berubah dianya..

Kamis, 15 Desember 2011

Ciri-Ciri Kesulitan Belajar (tugas mata kuliah Psikologi Pendidikan)

Secara umum, ciri-ciri anak mengalami kesulitan belajar ialah sebagai berikut:
*pada usia pra-sekolah

1. Terlambat bicara dibanding dengan anak seusianya
2. Memiliki kesulitan dalam pengucapan beberapa kata
3. Dibanding anak seusianya, penguasaan jumlah katanya lebih sedikit (terbatas)
4. Sering tidak mampu menemukan kata yang sesuai untuk satu kalimat yang akan dikemukakan
5. Sulit mempelajari dan mengenali angka, huruf dan nama-nama hari
6. Sulit merangkai kata untuk menjadi sebuah kalimat
7. Sering gelisah yang berlebihan
8. Mudah terganggu konsentrasinya
9. Sulit berinteraksi dengan teman seusianya
10. Sulit mengikuti instruksi yang diberikan untuknya
11. Sulit mengikuti rutinitas tertentu
12. Menghindari tugas-tugas tertentu, misalnya menggunting dan menggambar


*pada usia sekolah

1. Daya ingatnya terbatas (relatif kurang baik)
2. Sering melakukan kesalahan yang konsisten dalam mengeja dan membaca, Misalnya atau biasanya, huruf d
dibaca b (misalnya duku dibaca buku atau sebaliknya buku dibaca duku), w dibaca m (misalnya waru dibaca
baru atau sebaliknya baru dibaca waru), p dibaca q , w dibaca m dan lain sebagainya. Bila ini yang terjadi
mereka termasuk dalam kelompok berkesulitan belajar disleksia.
3. Lambat untuk mempelajari hubungan antara huruf dengan bunyi pengucapannya.
4. Bingung dengan operasionalisasi tanda-tanda dalam pelajaran matematika. Misalnya, tak dapat
membedakan arti dari simbol – (minus) dengan simbol + (plus), simbol + dengan simbol x (kali) dan lain
sebagainya.
5. Sulit dalam mempelajari keterampilan baru, terutama yang membutuhkan kemampuan daya ingatnya.
6. Sangat aktif dan tidak mampu menyelesaikan tugas atau kegiatan tertentu dengan tuntas. Kalau ini yang
terjadi mereka termasuk dalam kelompok berkesulitan belajar hiperaktif atau GPPH (gangguan pemusatan
pemikiran dan hiperaktifitas)
7. Impulsif (bertindak tanpa dipikir terlebih dahulu)
8. Sulit berkonsentrasi
9. Sering melanggar aturan yang ada, baik di rumah maupun di sekolah
10. Tidak mampu berdisiplin (sulit merencanakan kegiatan sehari-harinya)
11. Emosional (sering menyendiri), pemurung, mudah tersinggung, cuek terhadap lingkungannya
12. Menolak bersekolah
13. Tidak stabil dalam memegang alat-alat tulis
14. Kacau dalam memahami hari dan waktu

*pada usia remaja/dewasa
1. Sulit/salah mengeja huruf berlanjut hingga dewasa
2. Masih saja sering menghindar dari tugas-tugas membaca dan menulis
3. Mungkin saja lancer dalam membaca tapi tidak mengerti atau tidak bisa menjelaskan apa yang telah
dibacanya
4. Sulit menjawab pertanyaan yang membutuhkan penjelasan lisan dan/atau tulisan
5. Daya ingatnya terbatas
6. Sulit menangkap konsep-konsep yang abstrak
7. lamban dalam bekerja
8. Sering tidak telitu (ceroboh) pada hal-hal yang seharusnya rinci atau malah sebaliknya justru terlalu focus
kepada hal-hal yang rinci bisa salah (distorsi) dalam membaca informasi

dan secara lebih spesifik, ciri-ciri kesulitan anak dalam belajar yaitu:
1. Gangguan persepsi visual:
  • melihat huruf/angka dengan posisi yang berbeda dari yang tertulis, sehingga seringkali terbalik dalam menuliskan kembali
  • sering tertinggal huruf dalam menulis
  • menuliskan kata dengan urutan yang salah misalnya ibu jadi ubi
  • sulit memahami kanan dan kiri
  • bingung membedakan antara obyek dengan latar belakang
  • sulit mengkoordinasi antara mata (penglihatan) dengan tindakan (tangan, kaki, dan lain-lain)
2. Gangguan persepsi auditori
  • sulit membedakan bunyi: menangkap secara berbeda apa yang didengarnya
  • sulit memahami perintah teruteama perintah yang diberikan dalam jumlah banyak dan kalimat yang panjang
  • bingung dan kacau dengan bunyi yang datang dari berbagai penjuru sehingga sulit mengikuti diskusi karena saat mencoba mendengar sebuah informasi sudah mendapatkan gangguan dari suara lain di sekitarnya
3. Gangguan bahasa
  • sulit menangkap dan memahami kalimat yang dikatakan kepadanya
  • sulit mengkoordinasikan/mengatakan apa yang sedang dipikirkan
4. Gangguan persepsi -motorik
  • kesulitan motorik halus (sulit mewarnai, menggunting, melipat, menempel, menulis rapi, memotong, dll )
  • memiliki masalah dalam koordinasi dan disorientasi yang mengakibatkan canggung dan kaku dalam eraknya
5. Hiperaktivitas
  • sukar mengontrol aktivitas motorik dan selalu bergerak/menggerakkan sesuatu (tidak bisa diam)
  • berpindah-pindah dari satu tugas ke tugas berikutnya tanpa menyelesaikan terlebih dahulu
  • impulsif
6. Kacau (distractibility)
  • tidak dapat membedakan stimulus yang penting dan tidak penting
  • tidak teratur, karena tidak memiliki urutan-urutan dalam proses berpikir
  • perhatiannya sering berbeda dengan apa yang sedang dikerjakan (melamun/berhayal saat belajar di kelas) 
(dari berbagai sumber)